Search

"In the deep and the low of the mat"

Random stories and else about interesting things in a life of silly girl who happen to be a diplomat

55 ABK yang Malang (Bagian 1): Terjebak di Negeri Tanah Emas

Tulisan ini mengutip artikel dengan judul “Kasus 5 ABK Indonesia di Myanmar: Terjebak di Negeri Tanah Emas” yang termuat dalam buku “Kaleidoskop Perlindungan WNI: Setahun Kabinet Kerja” yang diterbitkan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.


oleh: Y.M. Kaka dan KBRI Yangon

Diplomasi perlindungan WNI kembali membuahkan hasil positif. Upaya Pemerintah untuk membebaskan 55 orang WNI anak buah kapal (ABK) dari jeruji besi penjara Insein di Yangon, Myanmar,merupakan salah satu dari ratusan bahkan ribuan kisah sukses Pemerintah dalam memberikan perlindungan hukum bagi WNI yang bermasalah di luar negeri. Para ABK yang semestinya menjalani hukuman selama kurang lebih 9 tahun sejak divonis tahun tersebut mendapatkan pengampunan atau amnesty dari Presiden Myanmar.

Pemberian amnesti sendiri tidak datang dari langit. Serangkaian upaya telah dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri sejak Maret 2014 untuk membebaskan para tulang punggung keluarga tersebut. Meskipun telah ditangani oleh KBRI Yangon, Kemlu mengirimkan tim khusus untuk mempercepat upaya pembebasan ke-55 ABK tersebut. Tim khusus tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu, Dr. Lalu Muhammad Iqbal. Dalam perspektif Indonesia, para ABK tersebut merupakan korban trafficking yang tidak prnah memiliki niatan untuk melanggar keimigrasian Negeri Tanah Emas, Myanmar. Mereka tidak pernah tahu bahwa beberapa oknum, diantaranya kapten kapal, telah mengarahkan kapal-kapal mereka menuju Myanmar.

Sesuai dengan konvensi internasional mengenai perdagangan manusia, khususnya Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Person, dimana Myanmar sebagai party, para ABK Indonesia harusnya tidak perlu dikriminalisasikan. Mereka seharusnya direpatriasi ke negara asal (Indonesia). Sempat menghadapi kebuntuan di awal, Kemlu terus melakukan komunikasi secara intensif dengan berbagai otoritas Myanmar yaitu Kementerian Imigrasi dan Populasi, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Luar Negeri Myanmar. Bukan hanya itu, pendekatan juga dilakukan dengan menggandeng International Organization [for] Migra[tion] untuk meyakinkan pihak Myanmar bahwa permasalahan ini harus dilihat dalam perspektif tindak pidana perdagangan orang, alih-alih sekedar pelanggaran keimigrasioan. Kemlu juga memanggil perusahaan yang menempatkan para ABK tersebut untuk memstikan bahwa perusahaan tidak melarikan diri dari tanggung jawab sebagai pemberi kerja.

Puncaknya, Menlu Retno L. P. Marsudi membawa permasalahan ini dalam pertemuannya dengan Menlu Myanmar, U Wunna Maung [Lwin] pada tanggal 21 Mei 2015 di Nay Pyi Taw. Seminggu kemudian, 28 Mei 2015, kabar gembira diterima oleh Kemlu melalui KBRI Yangon: Pemerintah Myanmar memberikan amnesty kepada seluruh ABK Indonesia yang ditahan, dan dibebaskan dari semua tuduhan pelanggaran hukum.

Akhirnya, amanat konstitusi untuk melindungi warga negara Indonesia berhasil dilaksanakan. Pada tanggal 8 Juni 2015, para ABK resmi dibebaskan dan kembali ke tanah air disertai dengan pelunasan hak-hak ketenagakerjaan mereka oleh perusahaan yang memperkerjakan mereka.


Bisa cakap Melayu??

Dalam keseharian di Myanmar cukup sering saya bertemu dengan orang Myanmar yang paham bahasa Melayu. Utamanya para pelayan restoran cepat saji di pusat perbelanjaan besar dan supir taksi. Cukup sering kami yang bercakap dalam Bahasa Indonesia di pusat perbelanjaan disapa oleh pelayan restoran dengan pertanyaan, “Saya bisa cakap Melayu, asal dari mana? Malaysia? Indonesia?” Kalau sudah begini, urusan komunikasi langsung terasa lebih ringan.

Fenomena ini tentu tidak aneh karena walaupun Myanmar tidak berbatasan langsung dengan Indonesia ataupun Malaysia, namun banyak warga Myanmar pernah mengenyam kehidupan di tanah rantau sebagai pekerja di Malaysia atau Singapura. Kecenderungan warga Negara Myanmar yang bekerja di Malaysia atau Singapura terus meningkat semenjak Myanmar mulai terbuka secara ekonomi terhadap dunia luar empat tahun belakangan.20160221_173057

Dengan fenomena semacam ini, maka tidak terlalu ambisius bilamana Indonesia meneruskan promosi untuk mewujudkan cita-cita agar Bahasa Indonesia atau Bahasa Melayu dapat menjadi bahasa resmi di antara negara-negara anggota Association South East Asian Nations (ASEAN), karena selain digunakan setidaknya oleh empat dari sepuluh negara anggotanya. Bahasa Indonesia atau Bahasa Melayu juga dituturkan oleh banyak warga negara anggota ASEAN lainnya, khususnya oleh penduduk Melayu di wilayah Selatan Thailand, sebagian penduduk di Filipina, Kamboja, Myanmar dan Vietnam untuk kepentingan dagang atau penduduk setempat yang mempelajari Bahasa Melayu untuk kepentingan pekerjaan ataupun pendidikan.

 

 

 

National Museum Project

Awal tahun 2016, kantor saya mendapat surat dari Kementerian Luar Negeri Republik Uni Myanmar yang menyampaikan rencana pembukaan ASEAN Exhibition Room yang akan berada di Gedung D-2 Sayap Kanan Museum Nasional Myanmar yang berada di kota Naypyitaw. Sebagai sebuah kota administrasi pemerintahan baru Myanmar setelah pindah dari Yangon pada tahun 2005, Naypyitaw memang masih secara bertahap menyempurnakan infrastruktur dan fasilitasnya.

Museum Nasional sendiri sebelumnya telah berdiri di kota Yangon. Lokasinya tepat dibelakang KBRI Yangon. Namun seiring dengan perpindahan ibukota, kantor-kantor pemerintahan juga pindah ke Naypyitaw.

Pada saat surat tersebut tiba di kantor, pejabat Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya, tengah dalam masa persiapan kembali ke kantor pusat Kemlu di Jakarta karena masa tugas yang telah selesai. Akhirnya, tugas tersebut diserahkan kepada saya untuk berkordinasi dengan pihak Museum Nasional mengenai kebutuhan yang perlu dipenuhi oleh Kedutaan Besar RI di Yangon.

National Museum Front

Menindaklajuti disposisi Dubes RI, saya beserta 2 orang staf yang telah ditunjuk berangkat ke Museum Nasional di Naypyitaw pada hari Kamis tanggal 21 Januari 2016. Di Museum, kami ditemui oleh Direktur Museum Nasional, U Ye Myat Aung, yang bertanggung jawab terhadap pengadaan koleksi di ASEAN Exhibition Room. Sebelum menuju ASEAN Exhibition Room, Direktur Ye Myat Aung mengajak kami berkeliling ke ruangan-ruangan koleksi lain yang sebelumnya telah dibuka untuk umum sejak April 2015 lalu.20160320_121700

Setelah mengelilingi ruang-ruang pamer yang telah dibuka sebagai tahap awal, kami baru digiring ke area yang rencananya akan dijadikan sebagai ruang pamer yang mengedepankan mengenai ASEAN. Secara umum, ruang pamer ASEAN Exhibition Room akan menunjukkan kepada pengunjung mengenai ASEAN secara umum, mulai dari sejarah pendirian, prinsip umum, perjalanan eksistensi organisasi mulai dari pendirian hingga saat ini dan deskripsi mengenai negara anggotanya yang terangkum dalam panel deskripsi di dinding-dinding di sekeliling ruang pamer.

Pihak museum juga menyediakan 10 buah panel display seperti lemari kaca untuk memajang benda-benda yang terkait dengan negara anggota ASEAN.

20160320_121617Dalam bayangan kami, sebuah panel display mengenai Indonesia mestinya merangkum kekhasan Indonesia sebagai Bhinneka Tunggal Ika dengan kekayaan budaya dari ujung Sabang hingga ke Merauke. untuk itu, kami memajang pasangan boneka yang mengenakan pakaian adat dari berbagai suku yang terdapat di Indonesia. Kami juga mengangkat beragam alat musik tradisional yang memang hanya terdapat di Indonesia.

Jika dibandingkan dengan panel display dari negara lain, jelas panel display milik Indonesia yang paling komprehensif. Hal ini sangat diapresiasi oleh Direktur Jenderal Kementerian kebudayaan Myanmar, saat beliau berkesempatan meninjau persiapan pembukaan.

Awal mulanya, pihak museum telah berupaya memajang sepasang pakaian adat asal Jawa Barat. Seingat kami, inilah adalah kostum yang digunakan penari pada saat Gala Dinner Asian Summit tahun 2014 ketika Myanmar menjadi Ketua ASEAN.

20160319_100449

Template seperti ini digunakan oleh negara anggota ASEAN lain yang belum berkontribusi menyerahkan koleksi kepada pihak Museum Nasional.

Namun, dengan komitmen penuh yang diberikan oleh KBRI Yangon untuk menampilkan Indonesia yang kaya, maka panel display Indonesia diubah menjadi lebih komplit dan informatif.

IMG-20160320-WA0014

Yang juga istimewa dari Indonesia adalah terwujudnya ide untuk membuat sebuah panel interaktif berisi informasi umum mengenai Indonesia. Panel interaktif ini diharapkan menggugah pengunjung untuk secara interaktif memainkan panel-panel sambil membaca dan memperhatikan informasi yang tertera terkait kekayaan flora, seni tari, pakaian adat dan destinasi wisata utama di Indonesia.

20160319_153258

Tidak hanya itu, yang paling istimewa adalah sumbangan koleksi berupa pahatan Garuda Wisnu Kencana setinggi 2 meter yang dengan gagaknya berada di ruangan utama yang merupakan kontribusi dari Pemerinta Provinsi Bali dan Grup Artha Graha.

20160320_121501

Inilah sedikit cuplikan yang kami kerjakan untuk mempersiapkan tampilan Indonesia dalam Museum Nasional Myanmar di Nay Pyi Taw.

20160319_141554

20160319_105707

20160319_133212

20160319_153844

20160319_153258

IMG-20160319-WA0007

IMG-20160319-WA0012

IMG-20160319-WA0028

IMG-20160319-WA0025

IMG-20160319-WA0044

IMG-20160320-WA0060

20160320_105128
Si Akang padahal udah cukup ‘cute’ buat jadi koleksi museum padahal….

mtf_iuBeH_1243.jpg

Jadi kalau lain kali berkunjung ke Museum Nasional Nay Pyi Taw, jangan lupa berkunjung ke panel display Indonesia yang ada di ASEAN Exhibition Hall ya……

Bhay….

Warung Konsuler

20160214_115719

Hari Minggu tanggal 13 Maret 2016 adalah hari Minggu kedua di bulan Maret. Nah, melanjutkan program yang telah dimulai pada bulan Februari lalu maka kegiatan Warung Konsuler kembali digelar oleh Fungsi Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia di Yangon.

Kegiatan rutin bulanan ini merupakan program baru yang diluncurkan awal tahun 2016. Kegiatan ini diselenggarakan dengan mempertimbangkan bahwa banyak warga negara Indonesia yang tinggal di Yangon umumnya adalah pekerja di kawasan industri yang letaknya dipinggir kota Yangon. Myanmar sendiri masih mempraktekkan enam hari kerja dari Senin hingga Sabtu. Sehingga banyak masyarakat Indonesia yang sulit memiliki kesempatan untuk mengurus administrasi kekonsuleran ke loket konsuler yang berada di KBRI Yangon.

Melihat semakin banyaknya warga negara Indonesia yang mulai berdatangan untuk bekerja di Myanmar dan mereka umumnya hadir di acara olahraga mingguan yang dikoordinir oleh Kerukunan Masyarakat Indonesia di Myanmar (KIM) setiap hari Minggu pagi di Gedung Olah Raga Ki Hajar Dewantara – Indonesian International School in Yangon (IISY), maka memanfaatkan momen tersebut Fungsi Konsuler KBRI Yangon membuka Warung Konsuler.

Pelayanan yang diberikan berupa lapor diri, pembuatan paspor, legalisasi dan surat keterangan. Pelayanan yang diberikan kepada masyarakat melalui program Warung Konsuler bersifat One-Day-Service, dimana masyarakat dapat langsung menerima hasil pekerjaan di tempat. Kecuali untuk paspor, pembuatannya masih membutuhkan proses dua hari kerja karena pencetakannya harus dilakukan di Kantor Konsuler KBRI Yangon.

Buat warga yang mau mendapatkan pelayanan, maka wajib membawa dokumen pendukungnya seperti: Paspor asli, salinan Identitas Indonesia, pasfoto 4×6 berwarna latar belakang putih 2 lembar, dan kelengkapan dokumen lainnya disesuaikan dengan keperluan.

20160214_11574520160214_115729(1)20160214_101917

20160214_101904

20160214_102950

Halal gak ya…..?!

Sebagai sebuah negara dengan mayoritas penduduknya menganut agama Buddha, tentu saja mencari tempat makan yang halal di Myanmar ini perlu metode research, trial and error. Research maksudnya adalah harus rajin-rajin cari informasi melalui media massa, media sosial maupun bertanya kepada warga muslim yang telah lama tinggal di Myanmar. Sementara trial and error maksudnya adalah yaa… mesti coba dan jangan manyun kalau rasanya gak enak 🙂

Setelah tinggal di Myanmar lebih dari dua tahun, saya memiliki beberapa tempat makan di Yangon, yang menjanjikan bahwa makanan yang diolah halal. Nah, berikut adalah daftarnya:

Mai Thai Restaurant | No. 197/1-3 Shwe Gone Daing Street 5, Bahan Townsip, Yangon, Myanmar | +95 1 383 662, 375 158 | http://goo.gl/F4jvXo 

20131130_583110_9604

Restoran yang menyajikan makanan khas Thailand ini menjadi salah satu langganan tempat kantor menjamu tamu. Selain karena dekat dengan lokasi kantor, makanan yang enak dan harga yang tidak terlalu mahal menjadikan Mai Thai selalu menjadi pilihan utama. Menu spesial yang menjadi andalan pilihan kami adalah telur dadar, sup tom yum, daging lada hitam dan tempura kepiting soka.

Rasa Lasa | 462 Thein Phyu Road, Corner of Myanma Gone Yi Road, Yangon, Myanmar | +95 94 2804 2828 | http://goo.gl/aFL9Ls

20160215_213210

Menawarkan beragam hidangan khas melayu mulai dari makanan ringan, hidangan utama sampai panganan penutup menjadikan Rasa Lasa sebagai tujuan yang paling tepat bilamana rasa rindu terhadap makanan kampung menggelayut. Bubur ayam yang lengkap dengan telur asin dan potongan cakwe menjadi pilihan favorit saya jika berkunjung ke tempat ini.

Kyine Tone | 168/170 U Chit Maung Road Between Hman Yawai St. and Sayar San Rd., Yankin Township, Yangon, Myanmar | +95 1 544 634, +95 97b3200 914 | http://goo.gl/fHPOIg

14116512981826344073

Kyine Tone menyajikan jenis makanan China halal, mulai dari bebek panggang yang lezat hingga sajian mie kwetiau seafood dan beragam olahan ikan dan seafood yang menggiurkan. Jangan lupa untuk meminta sup ayamnya yang super gurih dan kaya MSG 🙂 gratissss dan bisa refill.

Heaven Pizza | 38-40 Bo Yar Nyunt Street, Dagon Tsp, Yangon, Myanmar | +95 9855 1383 | http://goo.gl/QoSzYH

heaven-pizza

Untuk jenis makanan Italia yang halal, maka Heaven Pizza adalah tempatnya. Gak pake kuatir apakah daging yang digunakan dalam pizza, lasagna atau pasta itu pork atau bukan. Kesukaan saya adalah Customized Pizza dimana konsumen boleh memilih 4 jenis sayuran dan 2 jenis daging untuk topping pizzanya. Yang menjadi nilai plus banget buat Heaven Pizza adalah menyediakan delivery service ke kantor atau rumah saya (yang memang masih area delivery) dengan gratis asal total belanja minimal sebesar 20.000 Kyats.

Toba Restaurant | 15, Nawaday Street, Dagon Township, Yangon, Myanmar | +95 93 0223 875 | http://goo.gl/uIC9Ga

20150218_RESTAURANT_TOBA_Jaworr_03

Naaah…. sampai juga ke makanan ala tanah air Indonesia. Untuk menemukan makanan yang khas Indonesia dengan sajian andalan soto ayam Lamongan ya di Toba Restaurant tempatnya. Dengan chef asli dari Indonesia, restoran ini mencoba menyajikan bahan makanan yang disiapkan secara halal dan higenis. Meskipun tidak mencantumkan logo halal, namun restoran ini tidak menyajikan menu olahan daging Babi.

Kyet Shar Soon (KSS) Biryani | 65, 119 Street Ma U Gone, Mingalar Taung Nyunt Tsp, Yangon, Myanmar | +95 1 294 867, 205 665 |

632807ab9523f9f6388c11ac1030a4e7

Untuk restoran halal yang menyajikan makanan khas kawasan Asia Selatan jumlahnya sangat banyak di Myanmar. Restoran-restoran yang utamanya menyajikan nasi biryani dan ayam goreng seperti KSS Biryani dapat dengan mudah ditemui hampir di segala penjuru Myanmar.

Selain restoran-restoran tersebut di atas, sebenernya masih ada beberapa restoran halal yang nangkring dalam pilihan tempat makan seperti:

Phai Lin | 34 Kyaikkasan Road, in front of Worker’s Hospital, Yangon, Myanmar | +95 1 556 987, 209 256 | www.phailin.com.mm | Thai food

Mandalay Panthay Restaurant | 54, Daw Thein Tin Street, Yangon, Myanmar | +95 1 376 509 | http://goo.gl/jSE4GF | Myanmar Food

Cafe Cafe Parami Hotel | 2 Parami Road, Mayangone Tsp, Yangon, Myanmar | +95 1 658 118 |www.hotelparamiyangon.com | Buffet Asia dan Western

Hot Stone Pizza | G8 Soho Bo Myat Tun Road, Corner of Mahabandoola Road and Merchant Road, Yangon, Myanmar | +95 9263 455 500 | https://goo.gl/WxZK49 | Pizza dan Asia Selatan

Mi Casa Service Hotel and Apartment Restaurant | 17 Kabar Aye Pagoda, Yankin Tsp, Yangon, Myanmar | +95 1 650 933 | http://goo.gl/k6ewht | Tapas Bistro

Satu lagi tips untuk mendapatkan makanan halal di Yangon dan sekitarnya adalah, seringkali tempat makan tidak menggunakan tulisan Halal dengan abjad Arab namun dengan menempatkan angka 786 di papan nama restoran, warung atau gerobak kaki limanya. Simbol 786 merupakan kebiasaan penduduk pendatang dari wilayah Asia Selatan untuk menandai bahwa pemilik kedai merupakan Muslim. Berdasarkan rumor yang berkembang, 786 adalah jumlah total ayat Alquran. Ada pula yang percaya bahwa 786 melambangkan kata Bismillah. Cuma jangan manyun ya kalau angka 786 nya ditulis dengan menggunakan tulisan Myanmar yang melingker-lingker seperti cacing 😀 Biar gak manyun saya kasih contekan dey….

786
786 mirip kan…??!

Mandalay yang Aduhai

Meski Bagan sangat populer untuk destinasi wisata di Myanmar bagi turis mancanegara, dimana pengunjung dapat mengambil gambar landscape Bagan ala NatGeo, namun jika ada yang menanyakan kepada saya kemana harus pergi selama berada di Myanmar maka jawabannya adalah MANDALAY.

Untuk seorang pejalan seperti saya yang mengagumi karya budaya secara keseluruhan, maka Mandalay menawarkan atraksi pariwisata yang lebih komplit dan beragam. Selain itu, untuk mencari wisata yang terjangkau juga Mandalay menawarkan lebih banyak pilihan, seperti jenis akomodasi, transportasi maupun tempat makan. Bahkan jika kalian adalah seorang Muslim, lebih banyak warung-warung makanan halal tersebar di penjuru Mandalay.

Beberapa atraksi wisata utama di sekitar Mandalay adalah sebagai berikut:

http-_www.myanmartours.us_wp-content_uploads_Mandalay-Hill-Myanmar2
gambar diambil dari sini.

Mandalay Hill adalah sebuah bukit setinggi 240 meter dari permukaan laut dan diambil namanya menjadi nama kota yang berkembang di sebelah barat laut. Mandalay Hill merupakan rumah bagi puluhan pagoda dan biara, dan menjadi salah satu tujuan ziarah utama di Myanmar. Menikmati pemandangan Mandalay dari Su Taung Pyei Pagoda yang berada di puncak bukit menjelang matahari terbenam memanjakan pandangan mata.

https-_www.renown-travel.com_images_royal-palace-mandalay
gambar diambil dari sini

Mandalay Palace adalah istana dinasti raja terakhir di Myanmar. Komplek istana yang dibangun antara 1857 hingga 1859 tersebut dibangun oleh Raja Mindon yang menjadikan Mandalay sebagai ibukota kerajaan tradisional Myanmar. Bentuk komplek istana ini meniru istana kerajaan kuni Myanmar dengan bentuk segi empat dikelilingi oleh saluran air. Saat ini, hanya 10 persen dari wilayah istana yang terbuka untuk umum, karena sisanya masih digunakan oleh pihak militer sebagai kantor dan perumahan prajurit militer Myanmar.

http-_bnfmyanmar.com_wp-content_uploads_2014_06_Mahamuni-Pagoda
Gambar dari sini.

The Mahamuni Pagoda adalah salah tujuan ziarah umat Buddha yang penting di Myanmar. Mahamuni Buddha Image adalah satu penggambaran Buddha yang paling dipuja di Myanmar. Pagoda Mahamuni telah dibangun sejak tahun 1785 oleh Raja Bodawpaya dari Dinasti Konbaung.

Mandalay Marionettes Theatre merupakan salah satu atraksi yang tidak boleh terlewatkan bilamana berkesempatan bermalam di Mandalay karena pertunjukannya mulai pukul 20.30 hingga 21.00 dengan tiket masuk sebesar 8 USD. Pertunjukan dikemas dengan atraktif dan informatif dengan penjelasan menggunakan bahasa Inggris. Dengan lokasi tepat di samping hotel Sedona Mandalay, maka tidak akan banyak kesulitan untuk menemukan tempat ini. Untuk informasi lebih lengkap mengenai theather ini dapat melongok halaman situs mereka.

http-_globalnewlightofmyanmar.com_wp-content_uploads_2015_12_11111
gambar dari sini.

U Pain Bridge adalah sebuah jembatan kayu jati terpanjang dan tertua di dunia yang terbentang membelah Danau Taungthaman di Amarapura, sebuah kota kecil dipinggir Mandalay. Jembatan sepanjang 1,2 kilometer tersebut dibangun sekitar tahun 1850 oleh U Pain, walikota Kerajaan Ava di Amarapura saat itu. Jembatan ini biasanya akan penuh dengan pengunjung disekitar bulan Juli dan Agustus pada saat air danau sedang memenuhi lahan di bawah jembatan.

https-_www.mmtravelsystem.com_img_upload_12_EET_6N8R53H46M446U4WX647mdy1
gambar dari sini.

Tapestry Workshop juga banyak terdapat di sekitar wilayah Amarapura. Tapestry adalah salah satu kerajinan tangan terkenal dari Myanmar yang telah dikembangkan sejak ribuan tahun lalu dan dipercaya telah dilakukan bahkan sejak dinasti kerajaan tradisional Myanmar di Bagan.

https-_myanmartoursasia.files.wordpress.com_2013_10_myanmar-tapestry
gambar dari sini
https-_myanmartoursasia.files.wordpress.com_2013_10_burma-tapestry
gambar dari sini.

Sering disebut mirip dengan kerajinan Zarbozi dari India, namun dengan penggambaran karakter khas Myanmar menjadikan Tapestry menjadi salah satu bentuk souvenir unik dari Myanmar.

http-_3.bp.blogspot.com_-W0e1MI0wb_g_UWSfr9EYEVI_AAAAAAAACxk__q08vutykyU_s1600_Silk_6196
gambar dari sini.

Silk Longyi Workshop juga banyak terdapat di Amarapura.  Dengan warna warni ceria, harus siapkan mental dan hati untuk senantiasa agar pundi-pundi Dolar Amerika Serikat yang ada di dalam dompet tetap berada ditempatnya dan tidak berpindah tangan. Longyi adalah sebutan orang Myanmar untuk kain bawahan yang masih digunakan sebagian besar masyarakat hingga saat ini.  Selembar kain longyi sutera yang ditenun dengan alat tenun dengan tenaga manusia bukan mesin dan membutuhkan waktu pengerjaan hingga 3 bulan. Tidak heran bilamana harga selembar longyi berkisar mulai 300 USD hingga mencapai lebih dari 1000 USD.

Sagaing Region adalah propinsi yang berbatasan langsung dengan Mandalay region. Jika memiliki waktu yang lebih leluasa, melewati Jembatan Yadanar Pone yang membelah Sungai Irrawaddy, kita telah meninggalkan wilayah Mandalay Region dan masuk ke provinsi yang berbeda bernama Sagaing Region.

https-_upload.wikimedia.org_wikipedia_commons_1_1a_Ava_and_Sagaing_bridges
gambar dari sini.

Di Sagaing, terdapat beberapa pagoda yang cantik dan sayang bilamana dilewatkan. Keterangan lengkapnya bisa dibaca melalui laman ini.

Demikianlah sedikit catatan perjalanan mengenai Mandalay. Kota ini memang sangat menarik dan masih banyak hal lain yang perlu dijelajah di sana.

 

 

 

Walking down the street of Saigon

I am not really good at planning, holiday planning particularly. Karena banyak maunya, jadinya rencana itinerary sering berubah-ubah. Namun demikian, sering pula rencana mendadak justru dijalankan.

Setelah dengan tekun mencocokkan tanggalan merah antara hari libur di Indonesia dengan hari libur di Myanmar (oh… yes, that is one of the benefit being a foreign service….you got double holiday), saya pun memutuskan memanfaatkan libur akhir pekan yang panjang tanggal 25-27 Maret untuk menamatkan seri pantai cantik Myanmar Ngwe Saung-Chaung Tha-Ngapali. Tinggal Ngapali yang perlu disambangi, lokasi yang lumayan jauh dan ongkos yang lumayan besar (harus menggunakan transportasi udara) membuat Ngapali masih belum tercoret dari “To-Do-List in Myanmar”. Apalagi di wall FB muncul promo dari salah satu travel agent di Yangon yang menawarkan paket menginap 4 hari 3 malam plus transfer bandara-hotel-bandara di resort bintang 4 seharga 330 USD/orang dengan minimal booking 2 orang. Namun entah mengapa, di H-3 saya sendiri yang membatalkan bookingan. Rasanya masih enggan untuk pergi.

Di tengah kepasrahan bakal melewatkan libur akhir pekan yang panjang di Yangon lagi, pukul 23.00 tetangga iseng yang sering jadi korban pelengkap penderita yang terpaksa menuruti ajakan saya mengirim pesan via whatsaap. Vietnam Airlines promo 102 USD pp termasuk meal dan bagasi 20K. Whaaaattttt???? SIKAAAATTT!!!!

PhotoGrid_1459351644054…and that’s it.

20160325_111013We are flying with Vietnam Airlines for the first time ever.

Membandingkan dengan maskapai nasional kita, Garuda Indonesia, rasanya kita patut berbangga diri dan bersyukur bahwa kita masih memiliki maskapai nasional yang jauh lebih keceh. Menilai dari segi usia armada, kebersihan, pelayanan kabin, rasa makanan dan ketelitian terhadap detil keselamatan yang krusial untuk bisnis penerbangan diantara kedua maskapai nasional ini, saya memberi nilai unggul untuk Garuda Indonesia.

Tepat pukul 14.00 siang kami mendarat di Bandar Udara Internasional Tân Sơn Nhất di Ho Chi Minh City yang untuk penduduk lokal lebih sering disebut Saigon.20160325_134858

Saking bahagianya bisa liburan, saya terlalu bersemangat mengambil gamber tiap sudut bandara sampai seorang aparat keamanan bandara di depan meja pemeriksaan imigrasi menegur saya untuk menghapus foto di area imigrasi. Area tersebut memang dilarang untuk mengambil foto.

Untuk kunjungan kali ini, saya berniat untuk melakukan eksperimen. Saya ingin mencoba apakah paspor reguler yang baru saya buat di Yangon berfungsi atau tidak, sebelum saya gunakan untuk mengajukan aplikasi Visa ke negara adidaya. Jadi walaupun jalur Diplomatic Lane yang kosong sangat menggiurkan, namun saya berketetapan untuk ikut antrian jalur ASEAN, apalagi setelah rekan perjalanan saya yang pemegang Paspor Dinas ditolak memanfaatkan jalur Diplomatik. Ya sudah, akhirnya kami berdua dengan bangga menyodorkan Paspor Biasa kami. Tanpa rintangan, cap imigrasi masuk Vietnam pun mendarat cantik menjadi cap perdana di paspor baru saya.

Lolos melewati meja pemeriksaan imigrasi, kami melangkah keluar mencari tempat penukaran uang dan kartu telepon. Mengasumsikan tempat penukaran uang pertama yang ditemui pasti memberikan nilai tukar paling buruk, kami terus menuju pintu keluar. Kami pilih toko paling pojok untuk membeli kartu telepon dengan paket data. Selain prinsip “yang mojok biasanya jarang pembeli kemungkinan memberikan harga murah”, warung pojok itu juga memajang logo perusahaan penyedia yang kami kenal di Myanmar.

20160325_150021Paket data 5GB untuk penggunaan 3 hari sangatlah cukup, walaupun bolak-balik cek Google Maps untuk tahu posisi. Kecepatan data juga cukup memuaskan dan manjangkau hampir seluruh lokasi yang kami kunjungi di kisaran Saigon.

Setelah menukar uang yang lokasinya tidak jauh dari tempat pembelian SIM Card dan mendapatkan peta kota Saigon, kami dengan penuh percaya diri siap menjelajah Saigon. Penukaran mata uang as of 25 Maret 2015 adalah 22.270 VND untuk setiap 1 USD. Jadi kalau beli kaos di Pasar Ben Thant seharga 100.000 VND jadi harganya kurleb 59.500 IDR.

Awalnya rekan perjalanan saya bersiap menuju meja pelayanan taksi. Namun saya meyakinkannya untuk menjajal bis kota saja sampai ke Ben Thant. Dari riset beberapa travel blog, untuk mencapai pusat kota cukup naik bus kota warna hijau nomor 152 dari seberang restoran Burger King dengan ongkos 5.000 VND atau sekitar 3.000 IDR. Bandingkan jika naik taksi hingga ke hotel di kawasan Ben Thant, ongkosnya adalah 160.000 VND atau sekitar 95.000 IDR. Lumayan, bisa dapat 1 buah kaos untuk oleh-oleh selisihnya.

20160325_15051720160326_231516IMG-20160327-WA0115

Kalau membawa koper besar, maka penumpang akan dikenakan 2 tiket. Satu untuk penumpang dan yang lainnya ya untuk si koper. Si koper harus bayar karena makan tempat untuk satu orang penumpang berdiri.

20160325_150856        20160325_153356

Tiba-tiba saya merasa tertarik dengan frame kacamata yang digunakan oleh si Mas Kondektur Bis yang cihuuy abiis….

Menyusuri jalan raya kota Saigon yang semrawut, entah kenapa saya gak merasa terganggu dengan kemacetan, mungkin karena terlalu excited. Tidak sampai 1 jam, bis sampai di sebuah terminal transit paling dekat dengan Pasar Ben Thant. Dengan penuh keyakinan dan dengan petunjuk Google Maps kami menyebrang jalan menuju hotel.20160325_155429

20160325_155508Tips : Menyebrang di Saigon kurang lebih sama dengan dengan di Jakarta. Namun jangan mengeluarkan “magic hand“, jangan berhenti dan terus berjalan dengan kepercayaan diri 110%. You’ll be fine!

Screenshot_2016-03-31-20-31-41-1Dengan mempertimbangkan rekan perjalanan saya yang menggunakan jilbab, dan kebetulan juga hasil riset travel blog menunjukkan bahwa akomodasi di sekitar jalan Nguyen An Ninh sangat Muslim-friendly. Sepanjang jalan berderet restoran-restoran yang memasang logo halal. Selain itu juga, saya memang biasanya mencari akomodasi yang paling dekat dengan pusat oleh-oleh. Alasannya, kita tidak perlu mengalokasikan waktu khusus untuk ke tempat oleh-oleh jika waktu city tour sangat padat. Pada akhirnya kita akan pulang ke penginapan yang lokasinya sama dengan tempat oleh-oleh.

Malam sebelumnya, dengan menggunakan Agoda.com, kami sudah membayar 2 malam menginap di hotel An Tam di Jalan Nguyen An Ninh. Hotel ini tidak memiliki kelebihan yang menonjol kecuali lokasinya yang selemparan kolor dari Pasar Ben Thant, tetapi fasilitasnya dan harganya cukup memenuhi kebutuhan dasar akomodasi. Kekurangannya, gak ada air panas.

20160325_160708

20160325_160628

20160325_160728Tips lagi: karena memilih lokasi akomodasi di pusat keramaian, biasanya saya akan mencantumkan permintaan khusus untuk ditempatkan di lantai yang tinggi. Minimal lantai 4. Mengapa? untuk mereduksi suara bising yang berasal dari pusat keramaian di luar.

Pasar Ben Thant sendiri boleh dikatakan pasar yang buka sepanjang hari. Di saat matahari bersinar, pasar akan berada di dalam bangunan. Namun jika malam sudah menjelang, pedagang akan memboyong barang dagangannya dari dalam pasar dan menggelarnya di pinggir jalan di sekeliling bangunan Pasar Ben Thant. Jalan Nguyen An Ninh juga kena imbasnya. Hore…. dengan demikian, kalau pun pulang jalan-jalan sampai malam pun kita masih bisa tengak-tengok di pasar malam. So convenient!

Selesai sholat dan istirahat sebentar, kami menyusun rencana. Bagaimana cara untuk melakukan walking tour agar efektif dan bisa dilakukan sekali jalan satu arah. Rute yang kami sebagai berikut:

Screenshot_2016-03-31-23-17-25-1An Tam Hotel (1) –> Street Food Market (2) –> Independence Palace (3) –> Taman Cong Vien 30-4 (4) –> Diamond Plaza (5) –> Saigon Notre-Dame Basilica (6) –> Saigon Central Post Office (7) –> Taman Patung Bunda Maria (8) –> Ho Chi Minh City Hall (9) –> Hotel Continental (10) –> Saigon Opera House (11) –> Uncle Ho Statue (12) –> Kem Bach Dang Ice Cream (13) –> Ben Thant Night Market / An Tam Hotel (14)

STREET FOOD MARKET

20160325_165935

20160325_171114
Makanan kawin silang antara bakwan dan peyek 😀 Rasanya gak menarik, ketolong sama sambel pedas manis dan lalapannya yang segar.

INDEPENDENCE PALACE

20160325_173555

20160325_173628

20160325_173922
The power of Tongsis makes us happy to the max.

TAMAN CONG VIEN 30-4

20160325_175745

20160325_174856

20160325_174955

20160325_174216
Semua pohon di kota HCM diberi nomor, mungkin supaya tahu mana pohon yang usianya lebih tua sehingga jika sudah lapuk bisa ditebang agar tidak membahayakan.
20160325_175211
Tamannya terawat rapi dan indah. Bikin betah nongkrong berlama-lama. Gak banyak tangan usil kayaknya di sekitaran Saigon yang doyan nyabutin kembang ama pohon bunga.

SAIGON NOTRE-DAME BASILICA

20160325_175153

20160325_175158

SAIGON CETRAL POST OFFICE

20160325_180357

20160325_180845

20160325_180933

20160325_180939

20160325_180700 20160325_181447

Hal yang menarik buat saya adalah desain interior yang terdapat di dalam kantor pos. Selain masih terdapat wartel dengan booth telepon yang sangat cantik, lantai museum juga memiliki desain klasik yang ciamik. Di ujung kantor pos terpajang sebuah lukisan portrait Ho Chi Minh.

TAMAN PATUNG BUNDA MARIA

20160325_18274020160325_182801

HO CHI MINH HALL

20160325_190821

20160325_185926

20160325_185840

20160325_191327

SAIGON OPERA HOUSE

20160325_192054

20160325_192046

UNCLE HO STATUE

20160325_191042
Ketika kami tiba di lokasi tempat berdirinya Patung Uncle Ho, ternyata sedang dilakukan pemeliharaann. Di sekeliling patung ditutup dengan dinding temporer dari kayu : (

20160325_191255

20160325_191725
HCMC juga sudah memulai proyek LRT untuk memenuhi kebutuhan transportasi publik. Namun demikian, rencananya semua LRT di wilayah downton dan Distrik 1 akan berada di bawah tanah agar tidak merusak pemandangan seperti di Bangkok.

KEM BACH DANG ICE CREAM

20160325_193649

20160325_194235

20160325_194951
Yang khas dari es krim di Kem Bach Dang adalah es krim yang terbuat dari santan kelapa, bukan dari susu. Sebenarnya yang paling populer adalah coconut ice cream in the coconut shell. Saya memilih Fruity Ice Cream karena penampakan lebih mungil.

20160326_172402

Ada satu keributan terjadi di ujung restoran. Seorang pria bersama keluarga dan koleganya dengan aksen Singlish protes keras kepada pelayan yang membawakan kwitansi. Curi-curi dengar ternyata si Bapak yang memprotes masuknya tisue basah ke dalam komponen yang harus di bayar. Seperti saya sebelumnya, mungkin si Bapak berasumsi bahwa tisue basah tersebut merupakan complementary gratis dari restoran. Memang informasi bahwa pelanggan harus membayar tisue basah yang digunakan tidak disampaikan di awal. Saya pikir ini adalah kebijakan restoran Kem Bach Dang. Namun ternyata saya salah. Ketika kami makan di Sushi Tei kami bereksperimen apakah kami akan diminta membayar tissue basah juga, berbeda dengan di Indonesia yang biasanya adalah gratis. Taraaaaaa…… ternyata si tissue basah di Sushi Tei HCMC tidak gratis. Kesimpulannya memang si tisue basah wajib bayar di seluruh penjuru HCMC. Ini kok terdengar seperti scam sistematis yah… : ( Oiyaa… Ocha yang di Jakarta bisa refill dan gratis, di HCMC harganya 15.000 VND dan gak bisa refill : ((

Setelah dari Kem Bach Dang, kami dijemput oleh seorang rekan yang bertugas di KJRI HCMC. Kami sempatkan berkeliling membeli Pho Bo makanan populer Vietnam dan mampir ke Hard Rock Cafe HCMC karena si Ibu sebelah ingin membeli beberapa souvenir HRC untuk koleksi.

Kami sempat mampir ke Ngon sebuah restoran yang menyajikan beragam makanan Asia. Namun karena sudah terlalu malam, mereka sudah menutup order terakhir. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke hotel saja sambil menikmati suasana pasar malam.

20160326_221607

20160326_221618

20160326_221624

Satu hal lagi yang membuat saya takjub adalah bagaimana warga HCMC ini mengakomodir kebutuhan pendatang yang membawa rejeki bagi mereka. Jalan Nguyen An Ninh yang kebanyakan dijadikan tempat menginap warga Malaysia yang hendak berbelanja ke Ben Thant dimanjakan dengan tersedianya restoran halal, toko pakaian khas Malaysia dan jajanan-jajanan halal. Bahkan, dengan memanfaatkan keislaman travel agent yang mengatur perjalanan kami ke Cuchi Tunnel mengambil nama “Bismillah Tour“. Betapa kehalalan dan keislaman telah menjadi sarana menjual komoditas.

20160326_222617

20160326_22255020160326_222611

Selain itu, kami juga takjub dengan aktivitas belanja warga Malaysia ke Pasar Ben Tanh. Mereka secara sengaja datang ke HCMC hanya untuk belanja. Untuk itu mereka memilih akomodasi yang jaraknya tidak lebih dari 400 meter dari Ben Thant agar bisa bolak-balik tidak keberatan membawa barang belanjaan. Aktivitas belanja juga dimulai dari pagi hari sekitar pukul 08.00 pagi dan baru berakhir setelah larut malam pada saat pasar malam tutup sekitar pukul 23.00 malam.

20160326_222627

20160326_222642

Setelah gempor kelilingan HCMC kami istirahat karena besok pagi pukul 08.00 pagi harus sudah berkumpul ikut tur ke Cu Chi Tunnel. Seperti apa Cu Chi Tunnel? That will be in the next episode.

Bhaaay….

2015 and its snapshots

Mendadak Masak

Dalam kehidupan saya sebagai perempuan Indonesia, memasak di dapur jelas bukan opsi yang saya pilih sebagai hobi. Apalagi jika memiliki seorang ibu yang lebih sering memberikan uang untuk beli lauk di penjaja makanan kaki lima daripada menyodorkan hasil masakannya. Sebagai penikmay MSG wahid, saya gak pernah komplen jika yang ditawarkan ibu saya tiap waktu makan seringnya hanya Bakso atau Indomie. Ibu saya bukannya tidak pintar masak, tapi malas meladeni mood anak-anaknya yang memang picky soal makanan. Jadi, atas nama praktis si Ibu lebih sering memberi opsi makanan instant sebagai lauk pauk makanan sehari-hari.

Hampir 30 tahun dalam hidup saya, persoalan makanan tidak pernah menjadi isu. Saya tidak pernah jauh dari rumah ortu, jadi ya nyaris gak pernah berurusan dengan dapur. Pokoknya, semua terima beres.

Alas, sampai saya mesti tugas belajar ke negeri kangguru. Dimana semua kebutuhan yang terkait dengan makanan ala Indonesia ya harus diproduksi sendiri. Jika mengandalkan restoran Indonesia yang bertebaran di seluruh penjuru ibukota negara bagiab Victoria ya bisa bangkrut. Walhasil, dengan sedikit demi sedikit tapi mantab saya mulai sering-sering whatsapp atau telpon ke rumah ngobrol sama Ibu bagaimana caranya bikin ini dan itu. Ternyata bumbu inti masakan Indonesia itu mudah, pokoknya ada bawang merah, bawang putih, salam lengkuas…. hahahahaha 😀 Nah, ini adalah beberapa kreasi dapur saya yang mendadak masak karena kangen dengan panganan yang bisa dibilang asli Indonesia.

45515_438253417744_4913298_n
Sambal Goreng Hati

Sambal goreng hati ayam adalah makanan signature saya yang terkenal seantero mahasiswa Indonesia IAP 6 weekers tahun 2010 di  Unimelb. Kalau gak percaya boleh cek sama Cipu. Saya sendiri gak pernah bosen makan kalau lauknya pakai masakan ini. Proses persiapannya memang ribet karena terdiri dari 3 tahap–goreng kentang, rebus hati ayam dan tumis semua bumbu–tapi masaknya mudah dan gampang. Resepnya contek dari sini saja, tapi saya gak pernah pakai terasi.

 

52009_456632817744_10121_o
Kerang Ijo Rebus Aneka Bumbu

Kerang Ijo Rebus Aneka Bumbu ini endess bambang kalau dinikmatin pas musim dingin. Masakan ini sangat gampang dibuat karena semua bumbu, literally SEMUA bumbu mulai dari bawang merah, bawang putih, cabe, salam, lengkuas, kunyit, jahe, sereh, daun jeruk nipis, lada, ketumbar, garam, gula, MSG sampai asam cukup dicemplungkan dan direbus dengan air sampai mendidih. Setelah mendidih tinggal dimasukan kerang ijo yang sudah dibersihkan. Tunggu mendidih lagi dan masakan sudah siap disajikan. Cukup 10 menit untuk membuat masakan ini.

313755_10150293493217745_7926063_n
Rempeyek Kacang Ijo

Rempeyek Kacang Ijo ini resepnya hasil sharing dengan fellow awardee si Ibu Risnawati Suharyanto jauh-jauh dari Brissy. Begini bunyinya:

Bumbu halus: bawang putih kemiri ketumbar garam daun jeruk (buang batang tengahnya) lebih enak daun jeruk seger kl ga ada yg kering jg gpp.

Bahan Dasar: 1. Kacang tanah (beli di asian market yg kecil2, jgn kacang sini yg sealahim gambreng itu ya…) satu biji kacang tanah dipotong bisa jd 3 or 4 bagian. 2. udang rebon (enakan pake merk oz yg gede lebih berasa n murah) 3. teri jengki

Bahan Adukan: 250 gr tepung beras 2 sdm tepung sagu 1 btr telor santan air

untuk santan n air pake resep indo yg secukupnya gitu (biasanya sih mpe cukup encer ajah). setelah itu masukin bumbu halus dan bahan adukan tercampur rata (ga nggumpal) baru bahan dasar. Tinggal goreng dgn minyak yg udah panas bangettttttttt, pas dah masuk dikecilin apinya (biar bhn dasar ga gosong). Jgn buru2 dibalik nunggu kliatan garing baru dibalik.

Met mencoba….

daaaaaaan….. ternyata resepnya tokcer mantebbb!

10468549_10152444233712745_5538638261495357693_n
Chawanmushi

 

Chawanmushi ala-ala ini sebenernya makanan Jepang favorit saya kalau berkunjung ke Sus** T** restoran sushi kesukaan saya. Nah berhubung di Myanmar gak ada Sus** T** dan harga Chawanmushi di restoran jepang franchise dari Thailand yang ada di Yangon cukup mahal, maka saya bereksperimen membuat Chawanmushi sendiri yang caranya saya contek dari sini:

Isian chawanmushi sering saya variasikan, bahkan jika sedang ingin menikmati egg custard-nya saja saya tidak menambahkan isian apapun.

11000618_10152907130507745_5437864430664463468_n
Sate Padang

Sate Padang Lidah favorit saya sebenernya adalah Sate Ajo Ramon yang mangkal di parkiran Pasar Santa Jakarta Selatan. Saya sendiri penggemar sate padang dengan pilihan menggunakan lidah dan usus ketimbang daging. Ketika hasrat kerinduan akan sate padang membuncah, maka saya bergerilya mencari resep yang paling simple dan mudah. Mbah Google memang luar biasa, saya pun menemukan resep yang cukup menggunakan bumbu instan kari plus tambahan bumbu sedikit dari sini.

12087302_10153480802787745_1538448533047662170_o

Cilok ini jahanamnya dipamerkan setiap saat oleh ade perempuan saya dari rumah. Ya situ enak tinggal ngesot ke pujasera deket rumah bisa jajan Cilok, sementara yang jauh dari rumah cuman nelen liur ngebayangin enaknya Cilok. Tapiiiiiii….. jagoan neon pantang menyerah. Meluncurlah jari-jari mencari resep cihuy bikin Cilok yang didapat dari sini. Dengan modifikasi sana sini dan daun selederi biar makin harum, sukseslah saya jadi pencilok (da gak enak banget istilahnya kalo didenger orang Minang inih).

Satu hal yang saya sadari sekarang, bahwa memasak itu adalah sebuah meditasi penghilang stress. Menurut analisa saya, karena pada saat memasak pikiran kita hanya terfokus kepada bahan-bahan masakan dan proses memasak untuk memastikan bahwa makanan yang akan dihasilkan nanti rasanya sedap sesuai dengan yang diharapkan. Untuk sementara beban pikiran yang menggelayut total terlupakan. Makanya, kalau saya sedang stress… gampang menemukan saya ada dimana, ya di dapur.

Bon Appetite….

 

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑